Oleh: ABDI SAPUTRA, SH.
Pasti Kita semua sudah mengenal singkatan STMJ, yang sering digunakan sebagai salah satu komposisi dalam minuman peningkat vitalitas, mungkin pikiran kita tertuju pada “Susu Telor Madu Jahe” (STMJ), namun STMJ yang dimaksud adalah singkatan dari “Sholat Terus maksiat Jalan” , sebuah kata yang pengertian serta apabila dilakukan merupakan perkara bahaya besar.
Istilah tersebut sering kita dengar dimasyrakat terutama dikalangan anak muda sebagai salah satu bentuk kalimat canda bahkan mengucapkannya menimbulkan suatu kebanggan. Kalau kita sikapi dan telaah kalimat tersebut telah menghina bahkan telah bermaksiat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya yaitu dengan menyepelekan, mengingkari dengan menyeimbangkan suatu kebaikan dengan suatu keburukan.
Kondisi tersebut kita jumpai karena kekurang fahaman akan ilmu yang menimbulkan suatu sikap menyelisihi syariat tanpa mengetahui atau disebabkan kebodohan atas agamanya sendiri. Perbuatan tersebut merupakan suatu kemaksiatan besar, seakan-akan mereka menempatkan suatu keburukan dengan kebaikan. Padahal al-Qur’an telah memberi peringatan dalam surah an-Nahl ayat 116 yang berbunyi: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta: ini halal dan ini haram, untuk mengadakan kebohongan terhadap Allah”. Di lain surah juga menyatakan: “Dan (Rasul) menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk”. (QS. Al-A’raf:157), dari ayat diatas telah dinyatakan perbedaan antara yang baik dan yang buruk.
Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Hendaklah takut siapa saja yang menyelisihi syari’at Rasul secara lahir maupun bathin untuk tertimpa fitnah dalah hatinya berupa kekafiran, kemunafikan, bid’ah atau tertimpa adzab yang pedih di dunia dengan duhukum mati, had, dipenjara atau yang lainnya”.
Perilaku Sholat Terus Maksiat Jalan dapat menyebabkan penyelisihan terhadap perintah Allah SWT, yang mengakibatkan kekafiran, ketika mereka mengerjakan sholat terus bermaksiat, mengerjakan sholat terus bermaksiat, mengerjakan sholat terus bermaksiat, terus begitu tanpa mereka bertaubat dengan sebenar tobat. Ini merupakan sebuah keingikaran dimana ingkar janji terhadap sesame manusia saja begitu besar balasannya apa lagi ingkar terhadap Allah SWT.
Memang tidak mudah untuk menyesalai kesalahan atau bertobat secara nasuha (bersugguh-sungguh) hanya orang-orang yang benar-benar Istiqomah (konsekwen) dan menjaga tobatnya serta tanpa mengulani kesalahannya lah tobat nasuha dapat terwujud, namun setidaknya niat untuk berubah dari diri dan hati kita luruskan dan mantapkan.
Mungkin ada beberapa cara agar kesalahan tidak terulang lagi, belajar dari keslahan, bentengi diri dengan Iman dan Taqwa, perbanyak bergaul dengan dengan orang shaleh, baca al-qur’an dan terjemahnya serta mengamalkannya, tanamkan bahwa Allah maha melihat papun yang kita lakukan dan takutlah akan pertanggungjawaban kita kelak di kahirat kelak dihadapan-Nya terhadap apa yang telah kita lakukan, perbanyak silaturrahhim, perbanyak mengikuti majelis ilmu, sibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat, jagalah diri diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat serta menyesatkan, jadikan pa yang kita perbuat hanya semata-mata karena Allah SWT, kembalikan semua kebaikan yang kita perbuat kepada Allah SWT, jika kita benar-benarmau berubah, kita pasti akan menghindari maksiat, Ingatlah bahwa Allah SWT tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam kebaikan.
Sekali lagi takutlah kepada adzab-Nya, dan sungguh Allah telah mengancam orang-orang yang melanggar batas-batas laranganNya dan menginjak-injak garis-garis ketentuanNya dan Allah SWT berfirman: “Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya niscaya Allah memasukkannya ke dalam neraka sedang Ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. an-Nissa:14).
Janganlah kita melakukan apa-apa yang dilaranngnya, Karena semua yang diharamkan adalah ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT sebagaimana dalam firman-Nya: “Itulah larangan-larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.”(QS. al-Baqarah:187). Sudah sepantasnyalah kita mengetahui sbahwa dibalik larangan-larangan itu ada hikmah yang banyak anatara lain; bahwa Allah SWT ingin menguji hamba-hambaNya dengan larangan-larangan ini, dan melihat bagaimana sikap mereka terhadapnya.
Allah telah membedakan anatara kebaikan dan keburukan, diantara sebab-sebab perbedaan penduduk syurga dengan penduduk neraka adalah bahwa mereka tenggelam dalam bujukan hawa nafsu yang dengannya dihiasi jalan keneraka, sedangkan ahli syurga sabar menaggung segala penderitaan dan cobaan yang dengannya dihiasi jalan ke Syurga. Kalau tanpa ujian ini tidak jelas mana yang durhaka dan mana yang patuh dan ta’at kepdaNya. Sehingga sangat tidak pantas pabila kita menyeimbangkan atau menyamakan antara kebaikan dan keburukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar