Jumat, 20 Februari 2009

MEMILIH PEMIMPIN DENGAN CERDAS

Oleh: ABDI SAPUTRA, SH.

Tulisan ini Pernah dimuat SKH Sinar Kalimantan Edisi 93, Senin, 23 Februari2009

Dengan akan berakhirnya Pemerintahan Lama dan atas terbentuknya Pemerintahan yang baru, tak diindahkan perebutan jabatan kian ramai terjadi, yang pasti dengan pergantian pejabat dalam banyak posisi.
Untuk memeperoleh jabatan, banyak yang menginginkannya dengan cara instans, dimana segala sesuatu dibikin segera dan serba cepat, termasuk dalam mempromosikan diri sebagai calon pemimpin dengan janji mensejahterakan dan mengabdi pada rakyat, mereka seakan-akan mengkultuskan diri seperti malaikat yang akan membawa perubahan yang lebih baik, walaupun apa yang mereka lakukan dalam mepromosikan diri sebagian bertentangan dengan peraturan yang berlaku, nyatanya mereka tidak peduli yang penting promosi mereka berjalan dan menghasilkan suara terbanyak, seperti berkurangnya pemandanngan kota, akibat tidak mengindahkan tata kota dengan penempatan baliho/gambar-gambar calon pemimpin yang sembarangan.





Ungkapan bahwa pejabat adalah pelayan rakyat, bukan ptuan bagi rakyat, kerap kali diucapkan dalam kampanye mereka, baik lisan maupun tulisan sebagai upaya meningkatkan figure mereka dengan berorientasi hasil suara dengan merendahkan diri akan meningkatkan mutu, namun menurut pengalaman, ungkapan tersebut bahkan sering terjadi sebaliknya, dimana pemimpin adalah tuan rakyat, dan rakyat adalah pelayan pemimpin. Padahal Rasulullah S.A.W. bersabda : “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR. Abu Nu’aim).
Kebingungan masyarakat dengan banyaknya figure calon Pemimpin dengan janji-janji manisnya, akan timbul keraguan pada masyarakat atas pengetahuan mereka tentang calon Pemimpin yang baik. Atas kebingungan tersebut secara tegas Islam menjelaskan bagaimana kriteria Pemimpin yang layak dipilih untuk memimpin, diantaranya: Fathonah, calon Pemimpin haruslah cerdas, cerdas dalam memerintah, mengambil keputusan serta cerdas dalam segala hal yang berhubungan dengan kepemimpinannya. Shiddiq, calon Pemimpin haruslah mempunyai sifat jujur dab selalu berkata dan bertindak dalam kebenaran, Rasulullah S.A.W. bersabda: “Aku akan memberi jaminan sebuah rumah dipinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, sekalipun itu benar, dan rumah ditengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta sekalipun ia bercabda, serta rumah dibagian atas surga bagi orang yang akhlaknya bagus.” [ HR. Abu Daud dalam As Sunan (4800), Lihat Ash-Shohihah (494) ].
Tabligh, seorang Pemimpin sebagai penyampai yang cerdas dan bijaksana dalam ucapan dan menjalankan amanah, sebagimana firman Alla S.W.T: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik, sesungguhnya Tuhanmu, dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl (16): 125). Serta di ayat lain juga diterangkan “ Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat, Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff (61): 2-3).
Amanah, calon seorang pemimpin tidak mempunyai hasrat untuk berkhianat ketika diamanati, sebagai mana Allah memerintahkan untuk memegang amanah, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyeruh kamu) pabila menetapkan hokum antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. an Nisaa (4): 58).
Selain empat sifat tersebut yang patut kita perhatikan dalam memilih calon pemimpin, juga harus dilihat latar belakang calon pemimpin tersebut apakah bersih atau tidak, bersih dari segala pelanggaran baik bersifat dunia terlebih kejelasan tentang agamanya. Karena untuk menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa dan Negara tercinta ini diperlukan pemimpin bersih dan berani bertindak tegas diatas kebenaran.
Seorang peimmpin juga harus mengetahui tugas atas kepemimpinannnya serta ahli dibidang, ketika suatu kepemimpinan tidak diserahkan kepada ahlinya maka tunggulah kehancurannya, seperti anacaman yang disabdakan Rasulullah S.A.W. : “Apabila amanah telah dilalaikan maka tunggulah saat kehancuran. Ditanya “Wahai Rasulullah, bagaimana dilalaikannya?”. Beliau menjawab. “Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang tidak layak maka tunggulah saat kehancuranny.” (HR. Al-Bukhori dan Ahmad). Diantara tugas-tugas seorang pemimpin setidaknya Ia dapat mengendalikan seluruh anggota/kelompok/pemerintahannya untuk mencapai visi dan misis yang baik, juga dapat mengatur langkah-langkah untuk mencapai tujuan untuk semua termasuk mengantisifasi ancaman yang mungkin membelokkan terjadinya sesuatu atas suatu kebenaran menjadi suatu kesalahan (kehancuran). Pemimpin juga harus bersikap dapat memberi bimbingan, perlindungan terhadap yang dipimpin, mempermudah suatu urusan bukan mempersulitnya, bersikap lemah lembut, dia seorang pemaaf, memberikan kabar gembira serta memohonkan amapun kepada Allah terhadap apa yang dilakukan kita semua.
Sikap bertanggung jawabnya dan penyayang seorang pemimpin terhadap apa yang dipimpinnya sangat diperlukan dalam kepemimpinannya, hal ini senada dengan apa yang disampaikan Rasulullah S.A.W. : “Seoarang Pemimpin (pengusa) adalah pemelihara, dia bertanggung jawab atas pemeliharaan mereka.” (HR. Bukhori), juga dalam hadist lain “ Sesungguhnya seburuk-buruknya pemimpin adalah Al-Hathamah (mereka yang menjalimi rakyatnya dan tidak menyayangi mereka. “ (HR. Muslim). Serta “Sebaik-baiknya Pemimpin adalah mereka yang kalian cintai dan mencintai kalian, yang kalian do’akan dan mereka mendo’akan kalian. Seburuk-buruknya Pemimpin adalah mereka yang kalian benci dan mereka membenci kalian, yang kalian laknat dan mereka melaknat kalian.” (HR. Muslim).
Allah mencintai Pemimpinyang adil dan membenci Pemimpin yang zalim, Rasulullah S.A.W. kembali bersabda: “Makhluk yang paling dicintai oleh Allah adalah Pemimpin yang adil dan paling dibenci oleh-Nya adalah Pemimpin yang zalim.” (HR. Ahmad). Pemimpin yang adil hendaklah juga menjadi kriteria kita dalam memilih calon pemimpin. Setiap kita pasti mengharapkan pemimpin yang mencibtai dan mendo’akan kita, selalu adil dan senantiasa menasehati kita dalam kebaikan, namun semua itu tidak akan terwujud apabila ketiadaan peran serta kita secara keseluruhan untuk melaksankannya.
Wujudkanlah Pemerintahan Bangsa ini dengan memilih pemimpin-pemimpin yang layak memimpin, pilihlah mereka dengan cerdas dan do’akanlah mereka yang terpilih nanti semoga mereka dapat dengan teguh memegang janji serta manah yang diberikan kepadanya.

Tidak ada komentar: