Minggu, 01 Februari 2009

MENYOROTI VALENTINE’S DAY

( Sebuah Tradisi Beracun )
Oleh : ABDI SAPUTRA, SH.

Tulisan ini Pernah dimuat di SKH Sinar Kalimantan pada Edisi 69, Jum'at 23 Januari 2009 dengan Judul PERAYAAN YANG SESAT

Setiap Februari menjelang, banyak remaja Indonesia yang notabene mengaku bergama Islam ikut-ikutan sibuk mempersiapkan parayaan pada tanggal 14 Februari yang identik dengan sebuah perayaan yang sangat istimewa yang sering disebut dengan Valentine’s Day, dimana pada hari tersebut mereka (yang merayakannya) dengan mengungkapkan rasa sayang dan cinta kepada orang-orang yang diinginkannya. Perayaan ini semakin menjamur dimana-mana Pada tahun 1980-an, dan hal ini merupakan kesempatan bagi pembisnis-pembisnis yang mengambil moment tersebut untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan berbagai event.





Dilihat dari literature-literatur sejarah hari Valentine tersebut terdapat perbedaan-perbedaan pendapat tentang asal-usul perayaan hari Valentine ini. Yang paling populer adalah kisah Valentinus (St. Valentine) yang diyakini pada masa Claudius II yang kemudian menemui ajal pada 14 Februari 269 M. Namun kisah ini memiliki beberapa versi lagi.
Kalau kita menilik lebih jauh lagi, diantara perbedaan-perbedaan pendapat tersebut yang tidak memiliki silang pendapat terdapat pada cerita tradisi paganisme (dewa-dewi) Romawi Kuno, pada waktu itu ada sebuah perayaan yang disebut Lupercalia. Didalamnya terdapat upacara penyucian dimasa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama dipersembahkan untuk Dewi Cinta, Juno Februata. Pada hari tersebut para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak, nama gadis yang keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk bersenang-senang dan menjadi objek hiburan.
Berikutnya, mereka meminta perlindungan Dewa Lupercalia terhadap gangguan serigala pada 15 Februari. Selama upacara tersebut, kaum muda memecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dipecut karena mereka menganggap pecutan tersebut akan membuat mereka lebih subur. Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus dan Pastor. Diantara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I. Kemudian agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M. Paus Galasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari. Jadi diri St. Valentine sendiri masih diperdebatkan para sejarawan. Saat ini , sekurang-kurangnya ada tiga nama Valentine yang meninggal pada tanggal 14 Februari. Diantaranya ada kisah yang menceritakan bahwa Kaisar Cladius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat di dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda menikah. Tindakan kaisar itu mendapat tantangan dari St. Valentine yang secara diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga ia pun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M.
Begitulah, hari valentine bersal dari mitos zaman Romawi yang seluruhnya tidak lain adalah bersumber dari paganisme syirik, penyembah berhala, dan penghormatan terhadap orang-orang yang tidak pantas untuk dihormati. Selain itu, perayaan Valentine’s Day adalah salah satu makar orang-orang Yahudi yang diselundupkan kedalam tubuh umat Islam supaya diikuti. Jadi, perayaan Valentine’s Day adalah salah satu acara yang diadakan oleh orang-orang kafir dan orang-orang yang bergelimang dosa dalam rangka berbuat maksiat, mengumbar syahwat, dan memenuhi hawa nafsu belaka.
Salah satunya, seperti yang diberitakan Harian Pikiran Rakyat 13 Februari 2005, bahwa di Bandung pada tanggal 12 Februari 2005, Studio Carton Multi Kreasi menggelar acara lomba menjijikan yang diadopsi dari Amerika. Dimana lomba serupa pernah digelar pada Desember 2001 di New york, AS. Begitu hebatnya perayaan hari Valentine’s Day tersebut sehingga masih banyak pemuda-pemudi Islam dan umumnya Indonesia tertipu dan ikut-ikutan melakukan perbuatan-perbuatan diluar Islam maupun diluar kepribadian Indonesia.
Sesungguhnya cinta dalam Velentine’s Day hanyalah cinta semu yang akan merusak akhlak dan norma-norma agama. Oleh karenanya, perhatikanlah bagaimana Valentine’s Day bukan hanya diingkari oleh para pemuka –pemuka Islam sebagaimana diberitakan oleh Kantor Berita Reuters 12 Februari 2005. Bahwa pemuka-pemuka agama lainnya selain Islam juga mengingkari Valentine’s Day, di India misalnya, pernah diberitakan bahwa sejumlah aktivis dan pemuka agama Hindu berkumpul di Bombay pada Sabtu, 14 Februari 2004. Dengan lantang mereka menyerukan agar tidak-ikit-ikutan merayakan Hari Valentine yang menganjurkan dekadensi moral dan merusak tradisi India. Seorang aktivis berteriak: “ Valentine’s Day bukan bagian dari kepribadian dan tradisi agama kia, Selain itu, apa yang diajarkan oleh Valentine’s Day itu sungguh-sungguh akan merusak tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat warga India.janganlah ikit-ikutan Barat”.
Dilihat sejarah rancu dan akibat yang beracun dari Valentine’s Day tersebut, coba kita simak di dalam Taisir Aziz al-Hamid halaman 32. ketika Lajnah Da’imah Arab Saudi perbah ditannya tentang perayaan Valentine’s Day, mengucapkan ucapan selamat, memberikan hadiah, dan menyediakan alat-alat untuknya, lantas dijawab oleh Lajnah:
“Dalil-dalil yang jelas dari al-Qur’an dan sunnah serta kesepakatan ulama salaf telah menegaskan bahwa perayaan dalam Islam hanya ada dua, Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun perayaan-perayaan lainnya yang berkaitan dengan tokoh, kelompok, atau kejadian tertentu adalah perayaan yang diada-adakan” Tidak boleh umat Islam merayakannya, menyetujuinya, menampakkan kegembiraan padanya, atau membantu kelancarannya karena hal itu berarti melanggar hokum Alloh yang merupakan suatu tindak kezaliman. Dan apabila perayaan tersebut merupakan perayaan orang kafir maka makin parah dosanya sebab itu termasuk tasyabbuh (menyerupai) mereka dan termasuk bentuk loyalitas kepada mereka, sedangkan Alloh dalam al-Qur’an yang mulia telah melarang kaum mukminin menyerupai orang-orang kafir dan loyal kepada mereka. Sesuai dengan sabda Nabi SAW : “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. Abu Dawud:4031, Ahmad:2/50,92, dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwa’ul-Gholil:1269).
Sebagimana pula diharamkan membantu semaraknya acara ini atau perayaan-perayaan haram lainnya baik dengan jual beli, mengirim kartu, mencetak, mensponsori, dan sebagainya karena semua itu termasuk tolong-menolong dalam dosa dan kemaksiata. Sedangkan Alloh berfirman. “… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…(QS. al-Ma’idah [5]:2).

Tidak ada komentar: