Oleh: ABDI SAPUTRA, SH.
Cobaan datang silih berganti, dari kerusakan fisik berupa bencana alam sampai krisis moral di Negeri ini. Dari tsunami hingga kebakaran, dari KKN, ketidak adilan hingga saling menyalahkan. Kita mengetahui dan menyadari bahwa kehancuran dimuka bumi ini adalah akibat dari ulah/kesalahan kita (manusia) sendiri, namun apakah kita sudah benar-benar menyadari dan segera memperbaikinya dengan perbuatan maupun sikap dan hati kita.
Bukanlah saatnya kita saling menyalahkan satu sama lain, cobalah kita bersikap cerdas, dengan intropeksi serta memperbaikinya. Dalam menghadapi segala cobaan dan musibah, sikap yang Pertama kali kita lakukan adalah, bertaubat dengan sungguh-sungguh atas kesalahan-kesalahan kita masa lalu dan terus meningkatkan keimanan serta ketaqwaan kita dengan sebenar-benarnya taqwa yaitu menjalankan segala perintah Alloh SWT dan Rasul SAW dan menjauhi segala larangan Alloh SWT dan Rasul SAW, karena dengan iman dan taqwalah keberkahan akan melimpah serta mendatangkan kemudahan dalam setiap urusan kita. Seperti Firman Allah SWT : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…(QS. al-A’raf [7]:96), dan didalam Surah lain Allah SWT juga menerangkan: “… Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. ath-Tholaq [65]:4).
Kedua, Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolong, Allah akan melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya serta kegembiraan bagi orang yang bersabar, yakinlah akan janji Allah karena Allah tidak akan pernah ikngkar janji. Ketiga, ucapkan “ Inna lillahi waa innaa illahi raaji”uun.” Yang merupakan kalimat Istirjaa” (pernyataan kembali kepada Allah) dan disunahkan menyebutnya apabila kita di timpa marabahaya baik besar maupun kecil. Beginilah sikap kita apabila ditimpa cobaan dan musibah. kalau kita ingin mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat serta petunjuk dari Allah SWT.
Kita menyadari bahwa manusia tak luput dari salah dan dosa, oleh karena itu, mulai saat inilah kita mencoba memperbaikinya, dimulai dari diri sendiri yaitu dengan menghindari perbuatan keji, kemungkaran, maupun permusuhan/perselisihan diantara kita hanya karena untuk kekuasaan/kebenaran yang dibenar-benarkan semata, baik dalam hidup beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Sudah sepatutnyalah kita mengambil contoh dari Rasululloh SAW sebagai suri tauladan yang baik, dimana ketika beliau mempersatukan kaum Anshor dan Muhajirin dalam satu ikatan persaudaran untuk memperoleh rahmat dari Allah SWT dengan semakin besarnya da’wah Islam. Serta pantaslah juga kita belajar dari sejarah dimana tidak ada satu kata atau perbuatan dari mereka para pejuang dulu yang membuat perselisihan /bercerai berai diantara mereka dalam mencapai kemerdekaan.
Allah SWT berfirman: “ Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. an-Nahl [16]:90). Di surah lain juga disebutkan “ Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai-berai … (QS. Ali Imran [3]:103).
Perselisihan dan Perebutan kekuasaan tidaklah penting di era modern sekarang ini, berlomba-lomba dalam iman dan taqwa lah yang sangat dibutuhkan untuk menuju kebahagiaan yang hakiki. “Dan Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal sholih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. an-Nur [24]:55).
Dari ayat diatas diterangkan keutamaan orang yang perbuatannya diwujudkan dengan iman dan amal sholih (ketaqwaan), di antaranya mengandung keutamaan: Menjadi Pemimpin dan Penguasa di permukaan Bumi. Ibnu Katsir rahimahulloh berkata: “ Adh-Dhohak berkata: ‘Ayat ini menjelaskan penetapan kholifah Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali Radhiallahu ‘Anhu bahwa mereka itu orang yang beriman dan beramal sholih.’” (Tafsir al-Qur-thubi:12/97).
Cukupkanlah semua perselisihan/permusuhan ini diakhiri dengan jalan kembali kepada ke jalan yang benar dan damai, tidak pantas bangsa yang besar ini saling tuding, saling sikut, saling hantam, dengan berbagai cara dan bisa saja tanpa sadar ada menzalimi dan terzalimi. Hindarilah kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman berbahaya bagi pribadi maupun masyarakat. Banyak sekali bahaya dan dampak negatif perbuatan zalim, di antaranya: kezaliman dapat menyebabkan datangnya murka Alloh SWT dan siksa-Nya, kezaliman adalah kegelapan-kegelapan diakhirat kelak, Bagi yang melakukan kezaliman dapat berkurangnya amal kebaikannya oleh yang dizalimi sebelum si yang berbuat zalim meminta kehalalan (maaf) kepada yang dizalimi, dan merupakan salah satu faktor kehancuran umat.
Sungguh ironis dan menyedihkan kalau bangsa ini tetap berselisih didalam kebenaran, apalagi hanya gara-gara ucapan yang tak bertanggung jawab kita berselisih satu sama lain. Marilah kita bersatu seperti orang-orang terdahulu yang hidup aman, damai, sejahtera, sentosa serta renungkan dan ambillah pelajaran dari mereka. Dimana mereka selalu mengembalikan perkara perselisihan mereka kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Semoga kita semua dalam lindungan-Nya. Ammin.. .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar