Minggu, 01 Februari 2009

MELIRIK DUNIA PENDIDIKAN KITA

Oleh : Abdi Saputra, SH.

Tulisan ini Pernah dimuat SKH Sinar Kalimantan Edisi 11, Selasa 11 November 2008
Kenaikan gaji Guru yang telah disetujui oleh Panitia Kerja (Panja) Belanja Pusat dan Panitia Anggaran DPR sebanyak 100 persen untuk tahun 2009 nanti, merupakan kejutan yang menggembirakan. Namun apakah kenaikan gaji tersebut efektif dalam dunia pendidikan kita, baik itu dalam system belajar mengajar maupun dari pemahaman mengenai hakikat pendidikan sebenarnya yaitu proses pembelajaran untuk menemukan peran manusia sesungguhnya dimuka bumi ini.






Belajar dari pengalaman, seperti akhir tahun 2003-2004, dunia pendidikan kita dikejutkan berita tentang konversi (subsidi nilai) nilai ujian akhir nasional (UAN). Pemerintah dalam hal Ini Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), menuai kritik dari murid, orang tua, guru, sampai para pakar pendidikan negeri ini. Kita semua menilai bahwa system konversi nilai ujian akhir nasional sama sekali tidak mempertimbangkan nilai keadilan dan kejujuran yang wajib dipertimbangkan dalam proses pendidikan. Sistem konversi mengandung dua sekaligus ketidakadilan dan ketidakjujuran, yaitu merampas hasil siswa yang telah bekerja keras dan memberi penghargaan kepada siswa yang tidak berhak. Pendek kata, konversi nilai ujian akhir nasional telah mengelabuhi baik kepada siswa yang berprestasi maupun yang tidak.
Terlebih dampak yang ditimbulkan pada SDM kita khususnya anak didik secara moril akibat dari system pendidikan yang diterapkan pemerintah sekarang ini, yang terus menerus merombak dari system yang satu ke system yang lain tanpa pertimbangan dan analisis lebih mendalam dengan rasa kemanusiaan. Dengan dalih UAN sebagai sesuatu yang wajar sebagai salah satu alat pengendali pendidikan, menetapkan standarisasi nilai dari 4,01 dan rencana akan terus meningkat setiap tahunnya. Pemerintah melakukan apa saja agar apa yang mereka pikirkan itu dapat terwujud tanpa alasan apapun. SUNGGUH SANGAT TIDAK MANUSIAWI.
Bagaimana bisa terjadi pada moral dan pemahaman mereka sebagai anak didik, bahwa mereka belajar untuk kemudian berpikir untuk bunuh diri jika gagal, dan untuk mengatasinya para pengajar pun berpikir untuk berbohong agar tidak terjadi korban bunuh diri pada anak didiknya dan untuk menjaga nama baik sekolah seperti yang sudah-sudah yaitu dengan memberikan bocoran jawaban UAN. Diluar system itu dunia pendidikan kita telah banyak mencoreng citra pribadi Indonesia yang dikenal dunia selama ini yaitu dengan terjadinya kekerasan, tauran, pencabulan, pelecehan seksual di dunia pendidikan bahkan merambah kemasyarakat.
Oleh karena itu semua, Pemerintah harus memahami situasi seperti ini. Usaha pencapaian dan peningkatan mutu pendidikan tidak serta merta dilakukan secara mendadak, semua itu harus dengan proses belajar yang berkesinambungan, dan sudah sepantasnyalah pemerintah berkeinginan tinggi untuk meningkatkan mutu pendidikan yang ada. Namun, segi kejiwaan setiap siswa yang menerima pengajaran tetaplah menjadi urutan pertama yang harus diperhatikan disamping usaha peningkatan mutu pendidikan.
Pribadi saya menyambut gembira kenaikan gaji guru sebanyak 100 persen sebagai motivasi untuk para pendidik agar lebih meningkatkan semangat dan mutu pendidikan tanpa memperhatikan hakikat pendidikan sbenarnya yakni memanusiakan manusia dengan ilmu yang didapatnya. Namun, apakah sudah dipertimbangkan kenaikan gaji tersebut. Apabila yang dipertimbangkan hanya dari segi materil, maka dunia pendidikan kita ini adalah pendidikan matrialistis. Kenyataan yang terjadi ketika baru diberitahukan akan ada kenaikan gaji sebanyak 100 persen pada tenaga pengajar dengan salah satunya bahwa guru yang mempunyai sertifikat mendapat gaji yang lebih banyak. Eh malah banyak guru yang meninggalkan kegiatan belajar mengajar hanya untuk ikut sertifikasi. Secara personal bagi pengajar menguntungkan tapi bagaimana bagi masa depan generasi bangsa ini yang semua berasal dari anak didik.
Sekali lagi masih banyak yang harus dibenahi untuk mencapai mutu dunia pendidikan kita, bukan hanya dari segi materil diantaranya: Pertama Pemerintah selama ini membedakan antara pendidikan agama dan non agama. Kenyataan sekarang ini pendidikan agama disekolah-sekolah umum setiap minggunya paling banyak hanya tiga jam mata pelajaran yang dimana satu jam mata pelajaran rata-rata hanya 45 menit. Seperti yang kita ketahui pendidikan agama adalah tonggak dan merupakan filter dari moralitas kehidupan kita, bagaimana bangsa ini akan cerdas berpikir dan bertindak apabila pendidikan agama yang diberikan hanya sekian persen setiap harinya. Kedua Selama ini kurikulum pendidikan lebih mengutamakan hafalan jika dibandingkan dengan pemahaman anak didik terhadap suatu ilmu. Memang di Negara kita sudah melekat suatu pemahaman bahwa orang yang pintar itu adalah orang yang dinilai dari kepintaran intelektual saja, sesungguhnya kepintaran menngendalikan emosi juga tidak kalah penting bahkan merupakan ukuran tingkat kecerdasan berpikir seseorang, dimana kita harus bisa menguasai emosi kita. Oleh karena itu kita perlu mempelajari, memahami dan mengontrol emosi kita agar tercipta suatu kebaikan. Keseimbangan Intelektual dan Emosional harus dilaksanakan dalam peningkatan mutu pendidikan. Bukan seperti amanat UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional yang tak seimbang, dimana disebutkan dalam pasal 34 mengenai penerjemahan akan arti pentingnya pendidikan bahwa “ Pemerintah wajib memberikan pendidikan dasar gratis kepada masyarakat”. Namun, sayang pengampanyean Wajib Belajar tersebut diartikan seolah-olah sebagai kewajiban dari masyarakat bukan kewajiban dari Pemerintah. sayang sungguh sayangnya Beginikah pemerintahan dan dunia pendidikan kita.
Dunia Pendidikan jangan dijadikan lahan pencarian materil saja. Tapi jadikanlah pendidikan sebagai lahan ilmu untuk meraih kecerdasaan dan kemulian hakiki. Ketika kecerdasan bangsa ini diperoleh maka Mulialah bangsa. Seperti yang dijanjikan Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Mujadalah ayat 11 yang berbunyi “ Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu, dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat, dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan “ dan juga termaktub di dalam Surah An-Nahl ayat 78 “ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pengdengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur “.





Tidak ada komentar: