Minggu, 01 Februari 2009

CINTA SESUNGGUHNYA


Oleh: ABDI SAPUTRA, SH.

Berbicara tetang cinta tak lepas dari kehidupan. Cinta begitu akrab dengan dunia empiris dimana manusia hidup, mulai dari kehidupan dalam kandungan cinta sudah menjadi tema dan perilaku manusia (fitrah manusia), seperti cinta Ibu dan anaknya, menjadi anak-anak cintapun tetap menghias kehidupan, apalagi menginjak remaja cinta menjadi sebuah nafas kehidupan yang begitu lekat.
Ketika cinta asmara bergejolak, dapat menuntut keintiman serta kesyahduan, menceritakan cinta membinarkan mata, memerahkan pipi, membuat senyum manis tercipta. Mengingatnya, ratusan pujian dan syair-syair penumbuh suasana pun terlontar dari bibir yang tak pernah dan tak pantas mengucapkannya kepada yang dikasihinya, sehingga yang dikasihinya begitu tampak sempurna.
Namun, ketika cinta itu telah berpaling dan sirna, duniapun terasa hampa, makan tak enak tidurpun tiada nyenyak, berjuta kata makian terlempar dari bibir yang sepantasnya berucap kebaikan, hidup dianggap tidak adil, bahkan tidak sedikit karena kehilangan cinta menjadi terluka dan tersesat dan mengarah keperbuatan menzalimi diri sendiri hingga bunuh diri.





Begitu sakralnya cinta ini, sehingga setiap 14 Februari dijadikan hari kasih sayang , sering dikenal dengan Valentine day’s, yang dianggap istimewa bagi para pendewa cinta, pada hari itu mereka mengungkapkan rasa cinta dan sayang kepada orang-orang yang dikehendakinya. Walaupun dengan cara yang berlebihan, misalnya demi untuk meraya hari itu mereka bisa saja mengorbankan kehormatannya sebagai tanda cinta kepada pasangannya.
Dapat kita simak dari ribuan literature yang menyebutkan sejarah hari valentine ini mempunyai versi sehingga kebenarannya pun sangat diragukan oleh para ahli sejarah. Perayaan ini bukanlah perayaan yang dianjurkan di dalam Islam, karena di dalam Islam hanya ada dua perayaan yaitu Idel fitri dan Idul Adha.
Allah SWT, berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya,sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya.” (QS. al-Isra:36).
Rasullullah SAW pun bersabda: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. Abu Dawud:4031, Ahmad:2/50,92, dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwa’ul-Gholil:1269).
Demi petualangan hidup kita didunia ini, kadang kala kita berpetualang mencari kebahagiaan dan kenikmatan, memang tidak salah hal tersebut, namun dalam pencarian tersebut kita sering berpikir menurut pikiran kita masing-masing atau menurut hawa bafsu kita. Ada yang menginginkan kebahagiaan lewat materi, mereka berusaha mencari harta sebanyak mungkin tidak memperdulikan lagi mana yang halal dan mana yang haram. Ada yang menghendaki kebahagiaan melalui kekuasaan, maka ia terjun kedunia politik serta menghantam lawan-lawan politiknya, untuk mencapai kekuasaan tersebut. Ada pula yang menginginkan kebahagiaan hanya melalui kekayaan rohani yakni dengan memilih jalan Allah SWT, yaitu jalan Iman dan jalan Taqwa yang dianjurkan-Nya dalam kitab-Nya, dengan memfokuskan seluruh rasa cintanya hanya kepada sang Khalik.
Tentang cinta Ibnu Qayyim berkata: “seseorang terpana olehnya untuk mengkhususkan cintanya kepada yang dicintainya, juga hendaknya ia tidak menyekutukan cintanya terhadap kekasihnya dengan yang lain.” Beliau juga berkata: “Seseorang tidak bisa membagi-bagikan cintanya secara adil. Dalam kalbu seseorang tidak mungkin terdapat dua cinta, demikian pula halnya langitpun tidak terdapat dua Tuhan.”
Ibnu Taimiyyah berkata: “Ketunggalan cinta adalah sebesar-besarnya pokok dari segala amal dari amal-amal Iman dan keagamaan, seperti halnya pengakuan akan ke Esaan Allah SWT adalah pokok dari segala perkataan yang berkaitan dengan Iman dan Agama.”
Allah SWT juga berfiman: “Dan diantara manusia ada yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebavaimana mereka mencintai Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. al-Baqarah:165).
Islam telah mengatur tentang bagaimana mencintai dan dicintai, Allah lah yang berhak dicintai diatas segala-galanya dari semua yang ada di dunia ini. Seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW diamana seorang muslim harus mempunyai prinsif “Sami’na waatha’na” dalam menghayati cintanya kepada Allah SWT. Yaitu dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dari itu seorang muslim harus mengikuti jal;an dan petunjuk yang telah dicontahkan Rasullah SAW. Sperti termaktub dalam al-Qur’an: “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan menngampuni dosa-dosamu” Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran:31.
Tempatkanlah Allah diatas segalanya di hati kita dengan cinta yang sebenarnya. Begitulah cinta sesungguhnya yang diajarkan al-Qur’an dengan kebaikan-kebaikan dan pelajarn-pelajaran yang Istimewa di dalamnya.

Tidak ada komentar: