Minggu, 01 Februari 2009

IMPIAN YANG CERDAS

Oleh : Abdi Saputra, SH.
Tulisan ini Pernah dimuat SKH Sinar Kalimantan Edisi 17, Selasa 18 November 2008
Pada mulanya segala sesuatu dimulai dengan Impian.
Al-Qur’an telah menyajikan banyak contoh serta menggerakkan dan membangkitkan akal dan impian manusia. Diantaranya adalah tentang pembahasan yang diajukan oleh Nabi Ibrahim tertuang dalam surah al-An’am 75-79.
Dimana diceritakan bahwa Nabi Ibrahim sebagai moyangnya para Agaama dan Para Nabi memulai dengan Impian, Ibrahim mencoba mencari dan mencipta Tuhan, Ketika Dia melihat matahari yang menerangi alam semesta, Ibrahim Kegirangan Ia berkata Mataharilah Tuhannya, namum Ia sadar bahwa mustahil Tuhan menghilang sejalan datangnya petang hari, ketika matahari tak lagi menampakkan diri.






Malam datang Ibrahim menyaksikan Bulan bersinar terang diantara bintang-bintang, sekali lagi Ibrahim berjuang menemukan impian, Ibrahim kembali berkata Bulan lah Tuhannya yang menyinari ketika gulita datang. Kekecewaan berulang kepada Ibrahim Bulan pun menghilang ketika kokok ayam membalik malam.
Impian penemuam Tuhan Ibrahim pun berakhir setelah tumpukan-tumpukan kegagalan dan kekecewaan menjulang. Dengan cerita tersebut Ibrahim telah menyadarkan fitrah kejahilan/kebodohan para penyembah bintang dan seraya berkata “ Adakah ini bisa menjadi Tuhanku? Tidak, Aku menolak untuk menyekutukan Tuhan. Aku akan memyembah Tuhan yang menciptakan Langit dan Bumi” disinilah kecerdasan Ibrahim dalam berimpian.
Al-Qur’an telah mengenalkan Tuhan yang memiliki hubungan erat dengan manusia. Dia mengetahui segala rahasia alam semesta, membimbing manusia kearah kebaikan dan kesempurnaan, Al-Qur’an juga menerangkan sifat Tuhan disebagian surah dan ayat lainnya, dimana Tuhan sebagai wujud yang Mulia dan Maha Tinggi yang lebih dekat dengan mannusia dari urat lehernya sendiri. Dia hadir di semua tempat dan mengawasi semua perbuatan manusia. Jika manusia memiliki jiwa bersih dan siap, dia akan memdapatkan cahaya Ilahi dalam jiwanya dan akan merasakan kenikmatan manisnya pengenalan dengan Tuhan.
Dalam sejarah apapun baik agama-agama, ataupun yang lainnya para perintisnya selalu memulai dengan impian. Sebagi Contoh, Dulu sebelum Indonesia merdeka, para tokoh pergerakan nasional kita juga punya impian, yaitu impian Indonesia merdeka. Impian merdeka pada saat itu sangatlah mustahil akan terwujud, karena Indonesia tidak mempunyai senjata untuk mekawan kolonial, kecuali senjata impian.
Indonesia ingin merdeka sangat mustahil, namun kenyataannya pada tahun 1945 Indonesia merdeka dengan Deras darah, keringat, genangan air mata, Ribuan bahkan Jutaan jiwa dan raga terbayar lunas dalam penjara ratusan tahun bebas, dan dengan bergabung erat pelan-pelan merekat persaudaraan membangun negeri yang terpahat kuat dalam cita-cita berbangsa.
Impian para nabi dan Rasul, serta impian para tokoh pergerakan bangsa ini adalah suatu impian yang cerdas dan membangun semangat yang pantas kita pelajari dan fahami. Semua kita boleh mempunyai impian tapi dengan impian yang cerdas, cerdas dalam mengahadapi kehidupan untuk kebaikan dan kesempurnaan sebenarnya.
Bagaimana Impian yang cerdas, Impian yang cerdas salah satunya adalah didasari dengan pemahaman pendidikan dalam artian sesungguhnya, yaitu proses pembelajaran untuk menemukan peran manusia dibumi.
Dalam sejarah perkembangan peradaban manusia, pendidikan memiliki peran yang penting dalam proses menuju peradaban umat manusia yang maju dan besar. Meskipun bentuk dan konsep lembaganya tidak selalu sama seperti saaat ini, akan tetapi konsepsinya terus mengalami metamorfosa. Sehingga wacana-wacana pendidikan pun tidak secara definitif didialektikakan sperti saat ini. Namun essensi dan semangat dari pendidikan tersebut selalu eksis dimana sebuah peradaban mengalami perkembangan.
Sementara itu dalam konteks ajaran agama Islam. Keberadaan Pendidikan dalam artian proses transformasi ilmu pengetahuan manusia telah menjadi kebutuhan mendasar. Bahkan kita dapatkan teks-teks Al-Qur’an dan hadist yang menyeru umat manusia agar peduli dengan pendidikan. Selain dalam Al-Qur’an surah Al-Mujadalah ayat 11 yang berbunyi “ Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu, dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat, dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan “ dan juga termaktub di dalam Surah An-Nahl ayat 78 “ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pengdengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur “. Ayat ini menunjuk kepada realisasi syukur manusia yang tidak lain adalah mempergunakan nikmat yang dianugerahkan oleh-Nya demi kepentingan kemanusiaan. Manifestasi dapat terwujud pendidikan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kemanusiaan.
Beranjak dari ayat-ayat Al-Qur’an diatas sebuah pendidikan dapat diartikan sebagai media manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan, yang dengannya manusia akan berusaha mewujudkan hakikat kemanusiaan, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi lingkungannya yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia yang sesungguhnya. Sebagaimana janji Allah bahwa manusia yang memiliki ilmu akan ditinggikan derajat kemanusiaanya. Logikanya semakin luas ilmu pengetahuan seseorang maka semakin tinggi pula derajat kemanusiaannya.
Dari pemahaman tersebut, maka wajarlah apabila Rasulullah SAW selalu mengajak umatnya untuk terus menerus memperhatikan pentingnya pendidikan, baik terhadap anak, keluarga, maupun masyarakat. Hal ini karena beliau sadar betul bahwa pendidikan/dakwah adalah media efektif untuk mewujudkan hakikat kemanusiaan.
Dalam merealisasikan ilmu pengetahuan yang mampu mewujudkan hakikat kemanusiaan seutuhnya, maka diperlukan konsep serta pemahaman manusia terhadap pendidikan yang tepat dan proporsional. Sehingga buah yang dihasilkan pun sesuai dengan apa yang diinginkan.
Apabila kita cermati proses pendidikan yang berlaku saat ini, khususnya di Negara kita. Praktik dan Pemahaman terhadap Pendidikan kurang tepat, semestinya Pendidikan mampu menciptakan manusia yang berkemanusiaan sesuai dengan harkat dan martabat yang sesungguhnya, kenyataannya cenderung otoriter dan menindas, seperti pandangan terhadap pendidikan yaitu dengan mengarahkan anak didik agar terbentuknya pribadi anak didik sesuai dengan keinginan pendidik, guru, bahkan penguasa. Dengan pandangan seperti ini sudah barang tentu orientasi pendidikan untuk terwujudnya kemanusiaan telah dikesampingkan. Rumusan pendidikan seperti ini sangat bertentangan dengan fitrah kemanusiaan manusia yang seharusnya berkembang secara alamiah.
Agar terciptanya sebuah impian pendidikan yang sesungguhnya, ada beberapa hal yang harus kita pertimbangkan. Pertama menciptakan serta mengembangkan dialog dan partisifasi dari segala pihak, komponen-komponen terkait, termasuk si anak didik dalam proses belajar mengajar untuk kecerdasan system pendidikan yang hadir baik lewat anak didik, pendidik serta pengusasa yang aktif, mandiri, cerdas dan otonom tanpa paksaan sehingga mimpi pendidikan yang cerdas pun terwujud. Kedua Jadikan Pendidikan sebagai proses kehidupan, yaitu dengan akal sebagai keistimewaan manusia yang tidak dimiliki makluk lain, dalam belajar dan mengambil hikmah dari apa yang dipelajari sebagai bentuk kecerdasan. Pendidikan bukan sebagai institusi atau pelembagaan semata yang terpisah dari masyarakat. Sehingga peran penting pendidikan, baik dan tidaknya pendidikan yang dijalani bagi manusia akan mempengaruhi kualitas manusia menggunakan kecerdasan akal dalam berpikir. Kecerdasan dalam kebenaran merupakan arah manusia dalam menggunakan mimpi dan ilmunya untuk masa depan kemanusiaan yang kemuliaan sesuai dengan harkat dan martabat sesungguhnya.
Sekali lagi dalam tulisan ini saya mencoba mengingatkan saya pribadi dan pembaca bahwa Allah di dalam Surah Al-Isra’ ayat 36 yang berbunyi: “ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.
Demikianlah, sharusnya kita mempunyai kecerdasan berpikir dalam menerima kebenaran agar impian cerdas terimplimentasikan dalam kehidupan, dan hendaknya kita selalu tholabul ‘ilmi juga mengikuti apa-apa yang diajarkan Rasulullah, sehingga sikap kita ini akan menyelamatkan diri kita dari kesesatan yang ditimbulkan oleh hawa nafsu dan kejahilan kita. Renungkanlah bahwa kecerdasan berpikir dalam kebenaranlah yang akan menentukan masa depan kehidupan kita dalam impian-impian sesunguhnya yang akan merubah pribadi, masyarakat dan bangsa ini pada kebaikan yang hakiki. Amien…
Wallahu a’lam bish-shawab***

Tidak ada komentar: