Oleh: ABDI SAPUTRA, SH.
Tulisan ini Pernah dimuat SKH Banjarmasin Post Pada Edisi Kamis, 29 Januari 2009 dan pada SKH Sinar Kalimantan Edisi 72, Rabu 28 Januari 2009Terkadang kita merasa gelisah, kecewa, marah, bahkan menganggap Alloh SWT tidak adil kepada kita, ketika kita mengalami sebuah kegagalan, dalam menjalani hidup untuk mencari yang lebih baik.
Seperti pada saat diumumkannya hasil seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), tidak sedikit yang kecewa dan menganggap dirinya buruk kerena tidak berutung dalam seleksi tersebut. Menurut data yang diterima peserta yang ikut seleksi tanggal 14 Desember lalu sekitar 23. 000 peserta, namun hanya sekitar 4000 peserta yang bersuka cita atas kelulusannya selebihnya 19. 000 peserta yang tidak beruntung dan kecewa atas hasil dari usahanya selama ini.
Bersyukurlah dan tingklatkanlah ketaqwaan bagi yang lulus karena kalian adalah orang yang terpilih. Bagi yang kurang beruntung jadikanlah kegagalan tersebut sebagai renungan, belajarlah dari pengalaman, berjuanglah keluar dari kegelisahan hati, berdo’alah tuk yang terbaik.
Mengapa do’aku belum terkabulkan? Kalimat ini mungkin sering terucap ketika menghadapi kegagalan. Tidak salah memang, apabila kita mengeluh bahwa do’a yang kita panjatkan belum terkabul. Namun sudahkah kita intropeksi? Dan adakah hikmah dari itu semua? Coba kita renungkan.
Belum terkabulnya do’a adalah ujian Alloh yang harus diterima dengan lapang dada. Alloh SWT berfirman: “…Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (QS. al-Anbiya’ [21]: 35).
Hal yang harus disadari dari orang yang berusaha dan berdo’a bahwa semua perkara sudah ditentukan oleh Alloh. Tidak ada satu makhluk pun yang mengelak dari ketentuannya. Ibnu Nashiruddin ad-Dimaqi dalam Bardul-Akhbar ‘Inda Faqdil-Aulad hlm. 38, ad-Du’a hlm. 94 beliau berkata: “ Tidak ada seoran pun yang yang dapat lari dari ketentuan Alloh. Tidak ada yang bisa menelak dari keputusan dan ujian Alloh. Hanya kepunyaan Alloh kerajaan dan para hamba-Nya.”
Alloh dengan hikmah-Nya yang agung dapat memberi dan menahan sesuatu pada hamban-Nya. Demikian pula dalam perkara usaha dan do’a. Ada hikmah dan rahasia Ilahi dalam tidak terkabulnya do’a diantara hikmahnya: Pertama: Terkabunya do’a bisa jadi malah membuat kita bertambah jelek. Karena Alloh yang menciptakan para hamba-Nya. Dia pula yang lenih tahu akan kebaikan dan kejelekan dari para hamba-Nya. Mungkin kita mengira permintaan yang kita minta adalah baik namun di sisi Alloh belum tentu baik pula.
Kedua: Pilihan Alloh lebih baik. Sufyan ats-Tsauri berkata: “Alloh (apabila) mencegah dari sesuatu pad hakikatnya adalah pemberian dan nikmat. Tidaklah Dia mencegah sesuatu karena kebakhilan-Nya, bukan pula karena tidak punya, melainkan karena Dia melihat kebaikan para hamba-Nya. Apabila Alloh tidak memberi maka itu adalah atas dasar pilihan dan pandangan baik dari-Nya.” (Madarijus-Salikin:2/215).
Ketiga: Manusia tidak mengetahui akhir perkara yang akan terjadi. Alloh berfirman: “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyujai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahu.” (QS. al-Baqoroh [2]:216).
Terkabulnya do’a tidak harus meraih yang diminta, hal ini perlu dipahami dengan baik, bahwa do;a yang dikabulkan jangan dipahami hanya meraih segala keinginan yang kita minta saja. Terhindar dari kejelekan atau Alloh tangguhkan do’anya dan disimpan sampai hari akhirat, termasuk bentuk terkabulnya do’a juga. Rasululloh bersabda: “Tidaklah seorang muslim berdo’a dengan do’a yang tidak mengandung dosa dan silaturrahim, melainkan Alloh akan berikan padanya tiga perkara; Alloh akan menyegerakan do’anya untuk dikabulkan, atau Alloh simpan untuknya di akhirat, atau Alloh akan palingkan darinya kejelekan yang semisalnya.” (HR. al-Bukhori dalam al- Adab al-Mufrod:710).
Intropeksi, jadikanlah kegagalan sebagai bahan renungan, barangkali masih tersisa sebuah dosa dan maksiat yang belum kita tinggalkan. Apabila iya, bersegeralah bertaubat kepada Alloh, karena dosa termasuk penghalang terkabulnya do’a. sebagian ulama salaf menatakan: “Tidaklah do’a itu tertunda untuk dikabulkan kecuali karena engkau telah menutup pintunya dengan maksiat.” Dan Imam Ibnul-Jauzi berkata didalam (Shoidul-Khothir hlm.131): “Bisa jadi belum terkabulnya do’a ialah karena ada beberapa penghalang dalam dirimu, mungkin makanan yang engkau makan mengandung syubhat, atau hatimu ketika berdo’a dalam keadaan lalai, atau karena dosa yang engkau tidak serius dalam bertaubat.”, dan tetaplah berbaik sangka kepada Alloh atas semua ketentuannya, karena Alloh adalah menurut perasangka hamba-Nya. Serta terus bersyukur, Alloh akan terus menambah kenikmatan kepada hamba-Nya yang bersyukur dengan jalan yang tidak disangka-sangka. Begitulah Islam mengajarkan dalam memaknai dan mempelajari hikmah dari sebuah kegagalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar