Jumat, 27 Februari 2009

ANTARA MENGHUKUM DAN MENDIDIK ANAK

Oleh: Abdi Saputra, SH.


Memang aneh, di sebuah Negara seperti Indonesia yang berdasarkan atas dan menjunjung tinggi Hukum, masih banyak terjadi ketimpangan-ketimpangan dan ketidak adilan dalam menerapkan serta melaksanakan Hukum itu sendiri.
Seperti beberapa hari terakhir ini, muncul kembali video-video kekerasan di kalangan pelajar maupun dimasyarakat, yang sangat mengkhawatirkan ketika sebuah video yang menayangkan dimana seoarang anak kecil yang kedapatan mencuri dihajar habis-habisan oleh masyarakat setempat bahkan mengacu pada pelecehan sexual dengan ditelanjanginya anak tersebut. Masih banyaknya sikap main hakim sendiri dikalangan masyarakat kita mungkin saja dilatar belakangi oleh ketidak fahaman mereka serta kekecewaan mereka terhadap ketegasan Hukum di Negara ini.



Sungguh Ironis dan menyedihkan, Ketika Pemimpin dan masyarakat kita dalam menerapkan serta melaksanakan hukum dengan seenaknya dan membedakan hukuman dilihat dari status sosial pelaku kejahatan tersebut, misalnya ketika seorang maling ayam dihukumi tidak sesuai dengan kesalahannya atau lebih besar dari hukuman seorang koruptor, bahkan sang maling juga mendapatkan hukuman dari masyarakat baik secara fisik maupun terhadap kejiwaannya, hanya karena maling tersebut rakyat biasa dan miskin perlakuan berbeda pun didapatnya dari pada seorang penjahat “kerah putih” atau koruptor yang sangat merugikan rakyat dan Negara beratus-ratus bahkan berjuta-juta miliar rupiah hanya mendapat hukuman lebih kecil dari pada maling bahkan terkadang perlakuan istimewa juga didapatnya, masyarakat pun tidak berani menghukumi si “Kerah putih” dengan hukuman fisik atau sekedar cibiran. Apakah mereka takut??
Sikap perlakuan masyarakat terhadap anak yang mencuri tersebut seharusnya tidak sedimikian rupa, serahkanlah dia kepada pihak yang lebih berhak dan hukumlah sesuai dengan kesalahannya, serta berilah nasehat-nasehat yang baik, Allah S.W.T. berfirman: ““Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik, sesungguhnya Tuhanmu, dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl [16]: 125).
Islam juga sangat menganjurkan berlaku adil sebagaimana firman Allah S.W.T:
“ … dan apabila kamu menetapkan hokum diantara manusia maka hendaklah kamu menetapkan dengan adil … “ (QS. an-Nissa [4]:58). Imam asy-Syafi’i rahumahullah berkata: “ Allah memberitahukan kepada Nabi-Nya bahwasanya wajib atasnya dan atas nabi yang sebelumnya serta atas manusia semuanya agar jika menghukumi maka hendaklah menghukumi dengan adil, dan adil adalah mengikuti hukum Allah yang diturunkan kepada manusia” (Ahkamul-Qur’an: 1/29).
Perintah terhadap keadilan di dalam Islam terdapat dibanyak ayat, antara lain. “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. an-Nahl [16]: 90). Di ayat lain juga menerangkan “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah… .” (QS. asy-Syuro [42]:40)
Orang tua dan masyarakat mempunyai unsur-unsur yang sangat penting dalam membangun lingkungan anak dan menanamkan tekad yang kuat ke dalam hati-hati mereka sejak dini. Dengan sikap meghajar anak yang telah mencuri bukanlah suatu tindakan berbuat adil yang cerdas, walau dengan niat membikin jera si anak tapi tidak menutup kemungkinan akan muncul dari diri si anak sifat dendam dan bisa saja dikemudian hari ia akan membalas dengan kejahatan-kejahatan yang lebih besar lagi.
Bersikap adil dan memberi pelajaran kepada anak pun Rasullullah telah memperingatkan dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim: “ Bertaqwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah terhadap anak-anakmu” . Perhatian serta kecintaan Rasulullah S.A.W. terhadap anak-anak sangatlah tinggi, terlihat di dalam hadist Riwayat Bukhari bahwa Rasulullah S.A.W. “ mencium Hasan.” Dan juga terlihat dalam sejarah di saat beliau mengajari Ibnu Abbas diusianya yang muda belia sehingga tampillah Ibnu Abbas menjadi sosok pemuda yang berilmu, bertaqwa dan memiliki keberanian yang luar biasa. Begitulah bentuk Rasulullah mengkasih sayangi anak, beliau selalu mencium anak-anak bila berjumpa, maka bersikap adil dan kasih sayang terhadap anak adalah dengan mengajari mereka kebaikan oleh para orang tua juga termasuk masyarakat dimana mereka menjadikan diri mereka sebagai tempat belajar bagi anak-anak mereka.
Salah satu kebahagiaan orang tua, masyarakat, Pemimpin serta Negara ini adalah apabila anak-anak/Generasinya menjadi anak/generasi yang hebat dalam segala hal kebaikan. Ajarilah mereka dengan pelajaran yang baik seperti yang diajarkan Islam dalam mendidik anak, antara lain pertama Mengajarkan tauhid kepada anak, mengesakan dan hanya beribadah kepada Allah S.W.T., lebih mencintai Allah dari yang lainnya, tidak ada yang ditakuti selain Allah, kedua Mengajari mereka Sholat dan membiasakannya untuk selalu berjama’ah, ketiga mengajari mereka agar pandai bersyukur keoada Allah, keempat mendidik mereka agar taat kepada kedua orangtua di dalam kebaikan bukan pada kemaksiatan, setelah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, kelima menanamkan kepada mereka sikap merasa selalu diawasi oleh Allah S.W.T., sehingga tidak mampu melakukan kemaksiatan sekecilpun, dan tidak mengindahkan kabaikan sedikitpun, keenam memberitahukan mereka akan kewajiban mengikuti kebenaran yang berdasar pada ilmu ketujuh menunjukkan kepada mereka akan pentingnya kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah, kedelapan menumbuhkan dan menanamkan kepada mereka sikap rendah hati, berhati-hati dalam beribadah, berlapang dada dalam menerima semua ketentuan Allah dan apa disampaikan Rasul-Nya, Istiqomah/Konssekwen dalam bertindak terutama ibadah, bersikap jujur serta bersikap dan bersifat dalam kebaikan lainnya.
Semoga kita dapat berbuat adil dalam menghukumi seseorang, dan dapat mendidik anak dengan penuh cinta dan kasih sayang sehingga anak-anak/generasi kita menjadi generasi terbaik bangsa ini, yang pasti akan membawa bangsa dan Negara ini pada kehormatan sesungguhnya dimata dunia.

Tidak ada komentar: