Minggu, 01 Februari 2009

KEBERANIAN PADA KEBENARAN

Oleh : Abdi Saputra, SH.
Tulisan ini Pernah dimuat SKH Sinar Kalimantan Edisi 14, Jum'at 14 November 2008

Tahukah Anda Dangsanakku apa yang dimaksud dengan keberanian sejati itu?
Dangsanak Bagaimana sikap kita mendapatkan teguran dari orang lain saat kita melakukan kesalahan? apakah kita menerimanya saja, mengingat dia orang yang kita segani atau orang yang kita takuti? Atau juga kita merasa sebel, jengkel dan merasa terhina karena peringatan itu datang dari orang yang kita tidak sukai atau datang dari orang yang kita anggap lebih rendah dari kita? Ataukah kita akan merasa cuek dengan kesalahan dan peringatan yang ditujukan kepada kita, atas dasar hidup kita adalah milik kita, atau kita merasa diri kita paling benar.





Teguran yang bersifat baik adalah teguran yang menghendaki kita kembali kepada kebenaran, sementara kebenaran itu hanya satu, yaitu yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.
Alangkah bodoh dan berdosanya kita jika kita tidak mengetahui hakikat kebenaran. Oleh karena itu menuntut Ilmu diwajibkan bagi setiap kita agar kita mengetahui dan tidak terjerumus pada kesalahan (kejelekan) yang mungkin menurut pendapat kita adalah suatu kebenaran (kebaikan).
Dapat disimpulkan bahwa Keberanian Sejati adalah sikap bersedia untuk dikoreksi bila salah. dan sikap tunduk, patuh serta menyerahkan diri untuk menerima kebenaran, meskipun kebenaran itu disampaikan oleh orang yang kedudukannya lebih rendah dari kita.
Allah Ta’ala memberikan anggota tubuh untuk bergerak, akal untuk berpikir dalam melakukan perbuatan-perbuatan dalam sifat kecerdasan bertindak. Nikmat ini patut kita syukuri dengan menggunakannya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan beraktifitas keduniawian yang bermanfaat dalam kebaikan. Ingatlah Allah Ta’ala berfirman :

“ Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS. Al- Qiyaamah : 36).
Hendaklah dan Patutlah kita berhati-hati dalam berucap dan berbuat, karena semua kan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala di akhirat. Seperti firman Allah di dalam Surah Al-Isra’ ayat 36 yang berbunyi:
“ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.
Keberanian sejati tersebut tidak akan pernah terwujud bila tidak dibarengi dengan tindakan-tindakan yang didasarkan dari pengetahuan serta dengan hati yang bersih. Karena sesuatu yang paling mulia pada jiwa manusia adalah hatinya. Hati mempunyai peran yang sangat penting terhadap seluruh anggota badan, ibarat raja terhadap prajuritnya. Semua bekerja atas dasar perintahnya dan tunduk kepadanya. Seluruh tubuh adalah pelaksana semua titahnya yang selalu siap untuk menerima arahannya. Jika hati seorang baik maka akan baik pula seluruh tubuhnya, namun jika hati seseorang jelek maka akan memnjadi jelek pulalah seluruh tubuhnya. Sebagaimana sabda Rasululloh : “ Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik maka seluruh tubuh pun baik. Dan apabila ia rusak maka seluruh tubuh pun rusak. Ketahuilah itu adalah hati.” (HR. al-Bukhori :52, Muslim : 1599).
Alangkah bagus apa yang disampaikan oleh Sahabat Nabi Abu Hurairoh “Hati adalah raja bagi anggota tubuh. Dan anggota tubuh adalah para prajuritnya. Apabila raja baik maka para prajuritnya pun baik. Dan apabila raja jelek maka para prajuritnya pun jelek.” (Majmu’ Fatawa oleh Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah: 10/15).
Oleh karena itulah, sebagai kaum muslimin umat Rasulullah Muhammad S.A.W. yang bersandar diatas kebenaran yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah, sudah sepantasnya kita memahami dan mengetahui cara meraih keberanian pada kebenaran dengan mensucikan hati menurut metode yang diajarkan Rasulullah S.A.W., diantara hal-hal yang bisa memurnikan hati seseorang adalah :
1. Memurnikan Tauhid Kepada Alloh S.W.T.
Merealisasikan dan memurnikan tauhid, yaitu hanya beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Adalah merupakan sarana terpenting untuk meraih kesucian hati, seperti termaktum dalam QS. Fushshilat ayat 6-7, yang berbunyi :

Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya),
(yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.
Ibnu Qayyim mengatakan :”Tauhid adalah sesuatu yang paling lembut, halus, bersih, dan jernih. Maka kotoran sekecil apa pun dapat membuatnya keruh dan mempengaruhinya. Ia bagaikan kain putih yang sangat sensitif terhadap kotoran sekecil apa pun. Ia juga bagaikan cermin yang sangat bersih, benda yang paling kecil pun dapat mempengaruhinya.” (al-Fawaid:184)

2. Meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah S.W.T.
Dalam hal ini Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Jiwa dan amal tidak bisa suci, hingga dihindarkan dari hal-hal yang bisa menentangnya. Dan seseorang tidaklah bersih melainkan dengan meninggalkan yang buruk karena ia kan mengotori dan mengeruhkan jiwa.”


Ingatlah Firman Allah S.W.T. QS. Asy-Syams ayat 10 yang artinya:

Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.
Tentang ayat diatas Ibnu Qutaibah berkata: “Yaitu orang yang mengotori hatinya dengan kefasikan-kefasikan maksiat. Orang yang fajir (berbuat doasa)itu telah menghancurkan dan meneggelamkan jiwanya. Sedangkan orang yang berbuat baik, ia telah mengangkat dan meninggikan martabatnya.” (Majmu’ Fatawa: 10/629).

3. Melaksanakan Sholat lima waktu
Renungkanlah Sabda Rasululloh S.A.W. artinya: “ Beritahukanlah kepadaku, seandainya ada sungai di depan pintu seseorang diantara kalian lalu ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali, bagaimana pendapatmu, apakah ia masih mennyisakan kotoran pada dirinya?” Mereka menjawab: “Dia tentu tidak menyisakan sedikitpun dari kotorannya.” Beliau bersabda “Demikian itulah perumpamaan Sholat lima waktu. Dengannya Alloh menghapus dosa-dosanya.” (HR. al-Bukhori:528, Muslim:667).

4. Banyak bersedekah
Alloh berfirman QS. At-Taubah:103:

“ Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Hati memiliki peran yang sangat agung di dalam tubuh seseorang, terangilah hati kita dengan Ilmu, membaca Al-Qur’an serta mentadabburi makna yang terkandung di dalamnya, mendatangi majelis Ilmu. Sesungguhnya jika hati kosong dari mengingat Allah, maka setan akan masuk sebagai racun yang mengantarkan ke lembah kemaksiatan.
Dangsanak, Setiap manusia di dunia ini kecuali Rasulullah yang maksum adalah makhluk yang pasti mempunyai kesalahan yang terkadang tidak kita sadari, sehingga kita pun wajib untuk terus belajar agama agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan tersebut.
Demikianlah, Sikap kita seharusnya bersikap dalam menerima kebenaran, hendaknya kita selalu tholabul ‘ilmi juga mengikuti apa-apa yang diajarkan Rasulullah, sehingga sikap kita ini akan menyelamatkan diri kita dari kesesatan yang ditimbulkan oleh hawa nafsu dan kejahilan kita. Renungkanlah bahwa Keberanian dalam kebenaranlah yang akan merubah pribadi, masyarakat dan bangsa ini pada kebaikan yang hakiki.
Wallahu a’lam bish-shawab***


Tidak ada komentar: